Senin, 26 Agustus 2019



PENGANTAR SEJARAH ALIRAN PSIKOLOGI

SEJARAH DAN BAGAIMANA PSIKOLOGI DIDEFINISIKAN
Pengertian Psikologi
Kata psikologi berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua kata yaitu psyche dan logos.  Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Jadi, secara bahasa psikologi bisa diartikan sebagai ilmu tentang jiwa   atau ilmu yang mempelajari jiwa. Adapun beberapa pendapat dari ahli psikologi, berikut ini;
Gleitmen (1986); psikologi adalah sebagai ilmu pengetahuan yang berusaha memahami perilaku manusia, alasan dan cara mereka melakukan sesuatu, dan juga memahami bagaimana makhluk tersebut berpikir dan berperasaan.
 Bruno (1987); membagi pengertian psikologi dalam tiga bagian yang pada prinsipnya  saling berhubungan. Pertama, psikologi adalah studi (penyelidikan) mengenai “ruh”. Kedua, psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai “kehidupan mental”. Ketiga, psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai “tingkah laku” organisme.  Dalam Ensiklopedia Pendidikan,
Poerbakawatja dan Harahap (1981) membatasi arti  psikologi sebagai cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan atas gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa.
 Wilhelm Wundt: Psikologi adalah ilmu yang mempelajari kesaradan Manusia
Woodworth dan Marquis: Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia, yang terlihat maupun yang tidak telihat meliputi aktivitas fisik, emosional, dan berpikir.
  Fieldman: Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang perilaku dan  proses mental.
 Clifford T. Morgan: Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang memepelajari perilaku manusia dan hewan.
  Gardner Murpgy: Psikologi adalah ilmu yang mempelajari respons yang diberikan oleh makhluk hidup terhadap lingkungannya.
Kamus Psikologi (Chaplin): Psychology as a science (psikologi sebagai suatu ilmu pengetahuan) adalah ilmu mengenai tingkah laku manusia dan binatang; studi mengenai organisme dalam segala variasi dan kompleksitasnya, untuk bereaksi terhadap perubahan yang terus menerus dan aliran dari kejadian-kejadian fisik/ragawi dan peristiwa-peristiwa sosial yang menyusun lingkungannya.

 Dapat ditarik kesimpulan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia, baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Lingkungan dalam hal ini meliputi semua orang, barang, keadaan, dan kejadian yang ada disekitar manusia. Ada banyak ahli yang mengemukakan pendapat tentang pengertian psikologi, diantaranya:
 1. Pengertian Psikologi menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 13 (1990), Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan binatang baik yang dapat dilihat secara langsung maupun yang tidak dapat dilihat secara langsung.
 2. Pengertian Psikologi menurut Dakir (1993), psikologi membahas tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungannya.
 3. Pengertian Psikologi menurut Muhibbin Syah (2001), psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Tingkah laku terbuka adalah tingkah laku yang bersifat psikomotor yang meliputi perbuatan berbicara, duduk , berjalan dan lain sebagainya, sedangkan tingkah laku tertutup meliputi berfikir, berkeyakinan, berperasaan dan lain sebagainya.

Dari beberapa definisi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia, baik sebagai individu maupun dalam hubungannya dengan lingkungannya. Tingkah laku tersebut berupa tingkah laku yang tampak maupun tidak tampak, tingkah laku yang disadari maupun yang tidak disadari.
Sejarah perkembangan psikologi
Psikologi adalah ilmu yang meneliti tentang kejiwaan seseorang dan awalnya merupakan bagian dari ilmu- ilmu yang lain, namun sesuai berjalannya waktu dan sebuah proses, psikologi itu sendiri telah menjadi sebuah disiplin ilmu, ilmiah dan tentunya telah melewati berbagai eksperimen yang berhubungan didalamya. Semua itu tidak lepas dari sejarah dan perkembangan psikologi sehingga menjadi sebuah disiplin ilmu. Secara Historis ilmu yang tertua adalah ilmu filsafat dan merupakan satu-satunya ilmu pada waktu itu. Seiring berjalannya waktu, filsafat  itu sendiri kurang dapat memahami kebutuhan manusia.
 Hal- hal yang berhubungan dengan kehidupan tidak cukup hanya diterangkan dengan filsafat. Maka ilmu pengetahuan alam memisahkan diri dari filsafat, menjadi sebuah disiplin ilmu tanpa mengadopsi dari ilmu lain. Karena ilmu pengetahuan alam membutuhkan hal- hal yang objektif, bersifat positif yang tidak dapat dicapai dengan ilmu filsafat. Begitupun psikologi, yang awalnya merupakan gabungan dari ilmu filsafat, karena psikologi bersifat ilmiah,dank arena meneliti tentang kejiwaan seseorang, tentu tidak cukup dangan menggunakan ilmu filsafat saja, sehingga ingin menjadi sebuah disiplin ilmu,tanpa mengadopsi dari ilmu lain; ingin berdiri sendiri menjadi sebuah ilmu. Dengan ilmiah, psikologi telah melakukan berbagai eksperimen untuk menjadikan sebuah disiplin ilmu, sehingga ada seorang ahli yang pertama mendirikan sebuah laboratorium psikologi  pada tahun 1897 untuk menyelidiki peristiwa- peristiwa kejiwaan serta eksperimental, ia adalah Wilhem Wundt. Kemudian berdatanganlah para ilmuwan lainnya melakukan penyelidikan. Maka berubahlah psikologi yang tadinya bersifat filosofis menjadi psikologi  yang bersifat empirik, mendasarkan atas hal- hal yang objektif dan positif, sehingga psikologi telah berkembang dan menjadi sebuah disiplin ilmu.
Psikologi sebagai suatu ilmu, tidak lepas dari perkembangan psikologi itu sendiri, serta ilmu- ilmu yang lain.
Psikologi yang berarti jiwa ,yang dulunya dimaknai dalam pengertian luas, dewasa ini, psikologi modern hanya membatasi pada prilaku (Glassman & Hadad, 2009) dan proses mental saja (Rathus, 2008; Wade & Tavres, 2007).
Menurut  Glassman & Hadad (2009) psikologi umumnya didefinisikan sebagai ‘’ the scientific study of behaviors ‘’ dan menurut Rathus (2008) psikologi didefinisikan sebagai ‘’  the scientific study of behaviors and mental processes’’. Kedua definisi arti tersebut merujuk pada satu makna yang sama yaitu  dalam pengertian umum perilaku berarti apa yang dilakukan seseorang baik yang berupa perbuatan ataupun perkataan. Sedangkan, yang dimaksud pada proses mental meliputi pengalaman internal yang dialami seseorang yang berupa aktifitas berpikir, merasa, mepersepsi, dll. Perilaku yang dimaksud oleh Glassman & Hadad pun sebenarnya meliputi keduanya yaitu perilaku overt dan pengalaman sadar yang antara lain terdiri dari pikiran dan perasaan. Nah, sejarah perkembangan psikologi sendiri bersifat dinamis dan perkembangan  pemikiran psikologi kedepan yang memang memiliki peluang perubahan yang sangat besar, maka definisi psikologi kedepannya akan sangat mungkin mengalami perubahan. Berikut perkembangan sejarah psikologi ;
Abad SM-18 Psikologi sebagai bagian dari filsafat  obyeknya asal usul jiwa, ujud jiwa, akhir dan jadinya jiwa, hubungan jasmani dan rohani. Tokohnya Plato, Aristoteles, Thomas Aquino, Rene Descartes, John Locke, dll.
Abad 18-19 Psikologi dipengaruhi ilmu alam ilmu pengetahuan eksak dan banyak tergantung pada matematika.
Abad 19-20 Psikologi berdiri sendiri , gejala tidak dapat hanya diterangkan dari sudut ilmu alam, namun dapat dilakukan melalui eksperimen _PSIKOLOGI MODERN.
 Psikologi kontemporer pada abad 20 para ahli saling berargumentasi menurut hasil penelitiannya masing-masing yang  berbeda-beda, namun akhirnya saling melengkapi menimbulkan berbagai aliran psikologi seperti lahirnya psikologi di luar mainstream yang tidak seperti psikologi pada umumnya. Seperti psikologi transpersonal, psikologi lintas budaya, psikologi budaya dan psikologi agama misalnya pemikiran psikologi dalam agama Islam yang dicetuskan oleh Al-Kindi, Ibnu Sina,atau Avicenna dan Ibnu Ruysd atau Averose, Ar-Razy atau juga di kenal dengan Rhazes, Al Farabi, Al Bakhi, DLL .
ALIRAN-ALIRAN PSIKOLOGI
STUKTURALISME>mendasarkan pada isi dan struktur jiwa. Setiap gejala psikis yang kompleks selalu memiliki karakteristik dari elemen-elemennya. Elemen kejiwaan tersebut dikaitkan satu dengan yang lain oleh asosiasi. Tokoh: William Wundt.
FUNSIONALISME>mempelajari fungsi dan kegunaan jiwa. Metode yang digunakan eksperimen dan observasi tingkah laku, ingin mengetahui mengapa dan untuk apa suatu tingkah laku terjadi. Jiwa seseorang diperlukan untuk melangsungkan kehidupan dan berfungsi untuk penyesuaian diri. Tokoh: William James.
PSIKOLOGI DALAM>untuk mengetahui gejala jiwa( dibutuhkan analisis sampai kepada ketidaksadarannya yang tertutup oleh alam kesadarannya. Beberapa alirannya:
>Psikoanalisis (Sigmund Freud)
> Psikologi Individual (Alfred Adler)
> Psikologi Analisis (Carl Gustav Jung)
BEHAVIORISME>mempelajari tingkah laku nyata, terbuka dan dapat diukur secara  obyektif, tidak perlu menggunakan metode introspeksi. Tokoh: J.B. Watson.
PSIKOLOGI HORMIC>Setiap tingkah laku dilandasi oleh dorongan dasar (hormo urge) yang menyebabkan tingkah laku tersebut mempunyai tujuan, arah. Dorongan dasar tingkah laku adalah naluri (insting). Reflek bukan tingkah laku karena tidak bertujuan. Tokoh Mc Dougall.
PSIKOLOGI GESTALT>muncul sebagai reaksi psikologi  tidak(elemen. Gestalt = totalitas, keseluruhan sekedar unsur-unsur atau bagian dari totalitas yang secara sendiri-sendiri tidak memiliki arti apa-apa. Tokoh: Von Ehrenfels, Wertheimer.
PSIKOLOGI KEROKHANIAN>metodenya verstehen, yakni mengerti dan memahami. Gejala kejiwaan baru dapat dipahami dan berarti bila gejala jiwa tersebut merupakan faktor dari totalitas nilai. Verstehen harus ikut mengalami, bersimpati kepada, memihak kepada, atau mengidentifikasi diri dengan seseorang atau sesuatu, namun menurut sikap “berdiri di atasnya”. Tokohnya Wilhelm Dilthey. Psikologi kerokhanian berkembang sehingga timbul:
> psikologi nilai dari Spranger
>psikologi personalisme dari William Stern.
              Sejarah psikologi adalah sebuah kisah mengagumkan tentang sejarah psikologi itu sendiri, menawarkan drama, tragedi, heroisme, dan revolusi. Serta semua perilaku-perilaku aneh yang menjadi bagian didalamnya. Terlepas dari awal keberadaannya yang janggal, kesalahan-kesalahan dan kekeliruan konsepnya, secara keseluruhan ini adalah sebuah proses evolusi yang jelas dan berkelanjutan yang telah membentuk psikologi kontemporer dan member kita penjelasan tentang kekayaannya.

Manfaat Mempelajari Sejarah Psikologi
Why learning story of psychology? Sebagai sebuah ilmu psikologi tidak muncul secara tiba-tiba. Ada begitu banyak proses panjang yang melibatkan logika, konteks, peristiwa, tokoh, relasi antar disiplin ilmu, dan ideology yang melatar belakangi munculnya sebuah pemikiran ilmu psikologi. Dengan mempelajari sejarahnya kita dapat lebih paham dan mengerti konteks kemunculan sebuah pemikiran, sekaligus psikologis tokoh yang memunculkannya. Menurut Herghenhanh (2009), terdapat enam manfaat mempelajari psikologi :
Memperkaya perspektif kita dalam menghadapi masalah berdasarkan pemikiran dan temuan ilmiah yang membuat kita lebih menghargai setiap upaya dalam mengatasi masala.
Mempelajari sejarah dapat membuat kita lebih memahami psikologi.
Mempelajari sejarah psikologi membuat kita lebih paham akan timbul tenggelamnya pemikiran psikologi.
Dengan mempelajari sebuah sejarah khususnya psikologi itu sendiri dapat membuat kita lebih bijaksana dalam mengambil keputusan sehingga tidak melakukan kesalahan yang sama.
Mempelajari sejarah psikologi dapat membuat kita lebih kreatif dalam memunculkan ide-ide baru. Ataupun mengembangkan ide sebelumnya ke topic yang paling mutakhir.
Mempelajari sejarah dapat memuaskan rasa penasaran atau keingintahuan seseorang mengenai suatu pemikiran tertentu.
Berbeda dengan pendapat diatas, Viney dan King (2003) menyebutkan manfaat lain mempelajari sejarah psikologi :
History is a key to understanding the future. Sejarah dianggap sebagai kunci dari masa yang akan datang. Dengan memahami pola yang memungkinkan kita dapat memprediksi dan mengantisipasi tren di masa depan.
History is a way to enrich the present. Sejarah merupakan salah satu cara untuk memperkaya hari ini. Sebagai sebuah bekal yang membuat kita mampu menghadapi masa kini.
History is a contribution to liberal education. Sejarah merupakan kontribusi dalam memberikan pendidikan yang bebas, melalui berbagai perpektif ilmu untuk mengurangi prasangka.
History teaches humility. Dengan mempelajari sejarah membuat kita tersadar akan kemampuan yang kita miliki merupakan hasil dari temuan temuan sebelumnya, sehingga kita tidak berpuas diri akan ilmu kita.
History teaches a healthy skepticism. Sejarah memberikan kemampuan dan menumbuhkan sikap kritis dan skeptic namun mengajarkan pula untuk menghargai pemikiran yang lain.
History influences human thought processes. Mempelajari sejarah membantu kita mengambil jarak dalam cara berpikir dan menemukan kesalahan cara berprasangka kita atau self preservation.

Isu-isu Dalam Sejarah Psikologi
Sejarah selalu berhubungan dengan isu-isu tertentu, psikologi sendiri merupakan ilmu yang tak lekang oleh isi-isu tersebut. Beberapa isu dari waktu ke waktu terus menjadi primadona. Tercatat dalam sejarah psikologi beberapa isu yang terus-menerus menjadi pusat perhatian.
Jiwa
Bahasan mengenai jiwa sudah mengalami proses yang panjang, baik meliputi definisi, ruang lingkup, dan bahkan istilahnya pun mengalami perkembangan. Misalnya soul, spirit,mind,heart,self,anima,dll. Paandangan para ahli pun berbeda misalnya,Thales bahwa semua materi memiliki jiwa termasuk benda dan semua makhluk hidup. Plato yang kemudian membedakan jiwa sebagai sesuatu yang tak berwujud atau immaterial dan raga materiil, dengan 3 unsur jiwa yaitu; reason, passion, dan appetite. Aristoteles memiliki pendefinisiannya sendiri baginya jiwa memberikan kehidupan dan setiap mahkluk memiliknya. Jiwa menurutnya terbagi 3 yakni vegetative, sensitive, dan rasional. Selain para filsuf yunani beberapa filsuf muslim seperti pandangan Ibnu Sina  mengenai hubungan antara jiwa dan tubuh. Menurutnya jiwa sangat memengaruhi tubuh dan begitu pun sebaliknya berkat pendapat tersebut ia disebut sebagai pionir dalam phisycological physycology dan neuropsychiatry.
Dalam psikologi modern arti jiwa mengalami penyempitan. Pada awa psikologi eksperimental wundt, hanya misalnya membahas kesadaran. Watson dengan behaveorismenya hanya berfokus pada perilaku. Selanjutnya, Sigmund Freud mencoba memperkenalkanketidaksadaran sebagai bagian dari dinamika kesadaran.  Freud menjelaskan  dinamika kepribadian manusia ada 3 unsur yaitu id, ego, superego. Maslow dengan psikologi humanistiknya meyakini dan psikologi positifnya Seligmen kemudian mengubah orientasipsikologi berfokus pada aspek-aspek positif dari manusia. Miller dengan psikologi kognitifnyameyakini pentingnya peran proses kognitif sebagai elemen jiwa yang dapat memengaruhi perilaku. Terakhir, psikologi transpersonal memperluas cakrawala kesadaran  dan ketidaksadaran manusia.
Karakteristik Alamiah Manusia
Seperti pembahasan jiwa, karakteristik alamiah manusia juga menjadi isu yang di perdebatkan oleh aliran aliran psikologi serta pendapat dari para ahli. Kecenderungan akan karakteristik manusiah sampai hari ini masih menjadi pedebatan.
Hubungan Antara Jiwa dan Raga (Mind-Body Relationship)
Sehubungan dengan ini terdapat dua aliran pemikiran yang satu sama lain saling bertentangan. Monisme & dualisme , monisme berpadangan bahwa manusia itu hanya terdiri dari satu aspek, bisa raga atau hanya jiwa saja. Monisme yang  beranggapan bahwa manusia dengan aspek jiwa yaitu idealism, dan manusia dengan aspek raga yaitu materialism. Sedangkan lawannya yaitu pemikiran dualisme, memegang prinsip bahwa jiwa dan raga adalah dua entitas yang berbeda. Jiwa merupakan sesuatu yang tak berwujud atau non fisik, sedangkan raga sendiri adalah sesuatu yang real, materiil dan berfisik. Terdapat dua tipe dualism yaitu interaksionis (jiwa dan raga saling mempengaruhi)dan epiphenomenalism (jiwa merupakan produk dari aktivitas fisik yaitu otak, dengan perbedaan mind & brain , proses dalam otak diyakini mempengaruhi jiwa). Namun saat sekarang ini hubungan antara jiwa & raga merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dan saling mempengaruhi dengan kuat terbukti dari hasil penelitian oleh para neuoropsikologis dan biopsikologis.
Sumber Pengetahuan Manusia
Sejarah mencatat dua pemikiran mengenai sumber pengetahuan manusia yakni rasionalisme dan empirisme. Menurut, Reed dan Umrson (2005) bahwa rasionalisme menunjuk padakeyakinan atau teori yang mengklaim bahwa untuk mendapatkan pengetahuan, kita bisa menggunakan penalaran tanpa bantuan pengalaman indrawi. Seperti yang dituliskan Hergehanh (2009) ‘’ pengetahuan terdiri dari konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang bisa diperoleh hanya dengan menggunakan  active mind’’
Tokoh tokoh rasionalisme diantaranya Rene Descartes, Leibniz, dan Spinoza.
           Empirisme berasal dari bahasa yunani yaitu empiria yang berarti pengalaman, dan dalam ilmu filsafat bisa diartikan sebagai teori atau keyakinan bahwa semua pengetahuan diperoleh melalui pengalaman indrawi, empirisme meyakini bahwa pengetahuan terdiri dari pengalaman indrawi yang terekam dalam pikiran manusia. Tokoh tokoh empirisme diantaranya John Locke, Berkeley, Ume, dan John Stuart Mill.
Universalisme vs Relativisme Pengetahuan
Universalisme menunjuk pada keyakinan adanya prinsip ataupun teori yang sifatnya pobjektif, tidak terikat waktu dan tempat sehingga dimungkinkan untuk menjelaskan semua fenomena yang ada di belahan dunia manapun, sedangkan relativisme menunjuk pada keyakinan bahwa pengetahuan manusia itu terbatas, dan dipengaruhi oleh keyakinan, situasi, budaya, ataupun paradigma. Perdebatan antara universalisme oleh Karl Popper dan relativisme oleh Thomas Khun. Namun perdebatan yang paling mutakhir diusung oleh psikologi budaya, psikologi lintas budaya, dan psikologi indigenous. 3 pandangan sejauh mana peran budaya dalam membangun teori psikologi;
Absolutisme
Berpandangan bahwa fenomena psikologi memiliki kesamaan di semua budaya, dan budaya tidak memiliki pengaruh terhadap pembentukan psikologi dan perilaku manusia.
Universalisme
Mempunyai pandangan bahwa fungsi dasar manusia memiliki kesamaan, dan konteks budaya berpengaruh terhadap perkembangan fungsi dasar tersebut.
Relativisme
Berkeyakinan bahwa psikologi dan prilaku manusia dipengaruhi oleh konteks budaya, maka generalisasi sebaiknya dilakukan  dengan memperhatikan keragaman konteks budayanya.

Pendekatan Dalam Penulisan Sejarah
Greenwood (2009) membahas beberapa pendekatan dalam penulisan sejarah
Yang mungkin digunakan oleh penulis sejarah :
Internal vs Eksternal
Penulisan sejarah psikologi dengan pendekatan internal artinya sejarah psikologi ditulis focus pada perkembangan teori-teori yang ada dalam psikologi. Sedangkan, penulisan sejarah berdasarkan pendekatan eksternal yaitu sejarah psikologi ditulis dengan menjelaskan perkembangan psikologi dalam konteks yang lebih luas termasuk factor social, ekonomi, politik, dan budaya yang mempengaruhinya.
Toko Besar vs Semangat Zaman
Penulisan sejarah psikologi juga bisa di tuliskan dengan pendekatan terhadap penjelasan tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya berdasarkan penemuan penemuan mereka dalam bidang psikologi  dan peristiwa penting yang berkontribusi besar dalam perkembangan psikologi di setiap zamannya.
Presentist vs Contextualist
Presentist menjelaskan penulisan sejarah dengan menjelaskan teori-teori psikologi dengan menggunakan perspektif perkembangan teori psikologi yang paling terbarukan. Sedang, pendekatan contextualist menjelaskan perkembangan teori psikologi apa adanya, seperti yang terjadi pada zamannya, misalnya pengaruh zeigest baik pada kesempatan ekonomi yang memaksa para psikolog awal berjuang mengembangkan ilmu psikologi sebagai bidang yang baru pada zaman tersebut.  Perang dunia  lewat ini para psikolog membuktikan dan berusaha mengaplikasikan penelitian dan penemuan mereka seperti contoh tokohnya yaitu Sigmund Freud yang memberi kesaksiannya mengenai pembantaian massal pada world war 1, mengemukakan bahwa agresi adalah kekuatan pemotivasi yang signifikan terhadap kepribadian manusia. Erich Fromm, seorang teoritis kepribadian dan aktivis antiperang, mengemukakan ketertarikannya terhadap perilaku abnormal karna paparan fanatisme yang harus diterimanya yang telah menyapu negara asalnya Jerman selama masa perang tersebut. Prasangka dan diskriminasi turut pula mewarnai penulisan sejarah dalam contextualist, diskriminasi terhadap wanita, etnis yang membuat psikologi sebagai bidang pembuktian diri pada masa tersebut, hingga pada akhirnya sejarah  psikologi tak memandang dan mengabaikan keseharian serta jenis kelamin, etnis, ras, dan agama tertentu untuk menggeluti bidang ini.
Pendekatan Konseptual
Menuliskan sejarah berdasarkan perkembangan konsep-konsep tertentu, baik berkelanjutan teori tersebut atau kemundurannya.  Seperti perkembangan histori psikologi berdasarkan konsep sejarah ilmiah, yang memandang dua cara pendekatan:
Teori Personalistik
Memandang bahwa kemajuan dan perubahan dalam sejarah ilmu pengetahuan bisa dikaitkan dengan ide-ide individu yang unik dengan kemauan serta karisma dan keunikannya yang mampu mengendalikan arah sejarah.
Teori Naturalistik
Memandang bahwa kemajuan dan perubahan dalam sejarah ilmiah dapat dikaitkan pada Zeigeist, yang membuat budaya menerima beberapa ide tetapi tidak untuk orang lain. Teori ini memandang bahwa waktulah yang menciptakan tokoh atau setidaknya yang telah memungkinkan adanya rekognisi terhadap apa yang harus dikatakan tokoh tersebut.

Selain dari yang dikemukakan oleh Greenwood (2009), penulisan perkembangan sejarah juga dapat dilakukan dengan merekonstruksi masa lalu psikologi. Merekonstuksi sejarah perkembangan psikologi melalu metode dan prinsip untuk menggambarkan bagaimana psikologi di masa lalu melalui rekonstruksi data-data.
Data Hilang atau Ditenggelamkan
Dalam beberapa kasus, catatan sejarah yang tidak lengkap karna data tersenbut hilang atau ditenggelamkan. Beberapa data yang baru ditemukan yang disebabkan karna kesalahan penyimpanannya yang kemudian berhasil menambah pengetahuan dalam bidang psikologi, atau beberapa data yang sengaja di musnahkan oleh tokoh sejarawan tersebut hingga data tersebut tenggelam dan hilang dalam sejarah psikologi.
Data yang Terdistori dalam Penerjemahannya.
Penerjemahan data dari bahasa aslinya kadang menimbulkan kesalahpahaman, sebab maksud dari data tersebut telah berubah, hingga penulisan sejarahnya akhirnya ikut keliru. Salah satu contoh bentuk kesalahan dalam penerjemahan yaitu free association oleh Freud, dimana kata association tersebut dimaknai sebagai hubungan antara suatu gagasan, namun association yang dimaksud dari data asli adalah instruction atau intruksi gangguan yang tdk diharapkan. Maksudnya Freud  menggambarkan sesuatu yang ada di dalam pikiran tak-sadar yang secara tak terkendali telah mengganggu atau merasuki pikira sadar. Sebuah pepatah Italia Traditore-Tradutore {menerjemahkan itu seprti mengkhianati}.
Data yang Mendahulukan Kepentingan Pribadi
Sejarah juga dapat dipengaruhi oleh tindakan-tindakan tokoh atau para partisipan sendi dalam mengisahkan kembali peristiwa-peristiwa penting, dengan sadar atau tak sadar untuk menjaga citra public mereka. Namun bila ditelusuri lagi akan mengungkapkan situasi yang berbeda dari kisah sejarah tersebut.

Masalah data sejarah ini menunjukkan kepada kita bahwa sejarah bersifat dinamis. Kisahnya akan terus berubah dan berkembang, dan terus mengalami pembaharuan, perbaikan, peningkatan, dan pengoreksian manakala data baru terungkap atau direinterpretasi. Oleh karnanya, sejarah tidak pernah dianggap selesai atau sempurna.


Perkembangan Psikologi Modern
Untuk mempelajari histori psikologi sendiri , kita harus memulainya dengan bagaimana kita mendefinisikan psikologi itu sendiri. Asal-usul bidang yang disebut psikologi ini dapat dilacak dari dua macam periode waktu, yang terpisah sekitar 2000 tahun lamanya. Karna itu psikologi merupakan salah satu diatara bidang science tertua sekaligus sebagai disiplin ilmu dari yang terbaru. Abad ke 19 mula dimana psikologi mulai meniti eksistensinya sebagai bidang yang terbarukan dengan memiliki teknik dan metode penelitiannya. Psikologi sendiri memang pada mulanya merupakan  turunan dari disiplin ilmu tertua yaitu filsafat, dimana pemikiran-pemikiran tokonya seperti  Plato, Aristotle, dan para filosof Yunani lainnya menggeluti bidang ini  namun dalam metode standard dan penjesan secara umum saja,  seperti misalnya memori, pembelajaran, pikiran, persepsi,  dan perilaku abnormal yang masih dikaitkan dengan ilmu-ilmu alam.
 Psikologi modern telah melakukan berbagai eksperimen untuk menjadi sebuah disiplin ilmu,pada tahun 1879  ada seorang ahli yang pertama mendirikan sebuah laboratorium psikologi   untuk menyelidiki peristiwa- peristiwa kejiwaan serta eksperimental, ia adalah Wilhem Wundt. Wundt sendiri merupakan orang pertama yang menggagas psikologi sebagai sains, disinilah tunas awal psikologi modern bermula, kemudian berdatanganlah para ilmuwan lainnya melakukan penyelidikan. Namun, Edwin Smith Papyrus menunjukkan bahwa pada zaman Mesir kuno pun sudah ada upaya untuk menghubungkan antara otak dan perilaku. Ide-ide mengenai psikologi pun ditemukan dalam beberapa bangsa seperti Cina, Babilonia, Mesir, Ibrani, India, dan juga Yunani.
 Maka berubahlah psikologi yang tadinya bersifat filosofis menjadi psikologi  yang bersifat empirik, mendasarkan atas hal- hal yang objektif dan positif, sehingga psikologi telah berkembang dan menjadi sebuah disiplin ilmu. Yang membedakan disiplin filsafat ilmu tertua dengan psikologi modern serta yang menandai kemunculan psikologi sebagai sebuah bidang study ilmiah tersendiri adalah pendekatan yang diambil dan teknik-teknik yang digunakan. Sampai seperempat abad terakhir dari abad ke-19, para filosof terdahulu mempelajari hakikat manusia dengan spekulasi-spekulasi, dan intuisi pengalaman mereka, akhirnya sebuah transformasi ketika para filosof menggunakan dan menerapkan metode-metode dan perangkat-perangkat yang sudah terbukti berhasil dalam ilmu sains seperti biologi dan fisika untuk mengeksplorasikan hakikat manusia.
Barulah setelah itu dari berbagai penelitian dan penemuan dari metode sains dalam mempelajari perilaku manusia,  psikologi mulai memperoleh identitasnya sendiri terlepas dari pengaruh awalnya filsafat. Gagasan bahwa metode sains fisika dan biologi diterapkan pada fenomena mental diwarisi dari pemikiran-pemikiran filosofis dan investigasi-investigasi psikologis pada abad ke-17 hingga abad ke-19. Era tersebut merupakan masa menggairahkan yang telah melahirkan  disiplin ilmu psikologi modern. Metode para psikolog di abad kesembilan belas berbeda dengan metode filosof , namun penyatuan kedua disiplin terpisah ini- psikologi dan filsafat- yang pada akhirnya menghasilkan disiplin ilmu baru yang dengan cepat memperoleh identitas dan statusnya sendiri sebagai bagian dari disiplin ilmu sains. 



Tidak ada komentar:

MUH. IRFAN GIOVANNI DEFINISI STATISTIK v   STATISTIK Pengertian Statistik: Asal kata “Statistik”: Statia     = catatan administras...