SEJARAH ALIRAN
PSIKOLOGI
{Pemikiran
Psikologi Baru}
MUH.
IRFAN(1971041083)
2019/2020
Universitas
Negeri Makassar
TUGAS 2
A.
George Berkeley[1685-1753]
Ia merupakan seoang filsuf Irlandia yang juga
menjabat sebagai uskup di Gereja Anglikan. Filsafat Berkeley adalah tentang
"pengenalan". Menurut Berkeley, pengamatan terjadi bukan karena
hubungan antara subjek yang mengamati dan objek yang diamati. Pengamatan
justru terjadi karena hubungan pengamatan antara pengamatan indra yang satu
dengan pengamatan indra yang lain. Dua karnya yang sangat berpengaruh pada ilmu
psikologi yaitu ‘’An Essay toward a New Theory of Vision (1709) dan ‘’A
Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge (1710). Berikut pendapat
dari Barkeley :
1.
Persepsi adalah satu-satunya realitas, menurutnya semua pengetahuan
adalah sebuah funsi dari atau tergantung dari pada orang yang mengalaminya atau
mempersepsikannya. Itu disebut sebagai Mentalisme yaitu doktrin yang menyatakan
semua pengetahuan itu adalah fungsi dari fenomena mental pada orang yg
mempersepsikannya. Namun menurutnya Tuhan merupakan segala pemersepsi permanen.
Menurutnya kita tidak mampu untuk memastikan hakikat dari semua objek di dunia
ini, selain hanya dengan mempersepsikannya atau merasakannya melalui pengalaman
kita. Seperti Locke ia pun setuju bahwa semua pengetahuan di dapatkan dari
pengalaman.
2.
Asosiasi sensasi , disini dalam salah satu bukunya ia mengatakan bahwa
gabungan ide-ide sederhana yang membentuk ide-ide kompleks dari sebuah sensasi,
bagaimana kita tahu itu adalah benda atau objek? Ini yang ia sebut sebagai sensasi, pengalaman
yang pernah atau stimulus energy yang serupa yang tersimpan di system saraf
pusat tersebut yang menjelaskannya, stimulus tersebut ditangkap oleh indera dan
di jelaskan berdasarkan pengalaman sebelumnya. Barkeley menjawab pertanyaan
bahwa mungkin semua persepsi itu ada hanya dalam tatanan kualitas sekunder
(hal-hal yang dimiliki objek yang tersimpan secara sensasi dalam ingatan kita
missal bau suatu objek atau kekhasan missal warna) kualitas subyektif yang
tergantung pada pengamatnya???
Jawabannya
adalah karna kita mempersepsikan kedalaman sebagai akibat dari penalaman kita.
B. David Hume[1711-1776]
Ia merupakan filsuf Skotlandia, ekonomi, dan sejarawan. Ia termasuk
seorang empirisme yang mana mendapat pengaruh
empirisme John Locke dan George Berkeley. Karya besarnya dalam psikologi
ialah filosofi naturalistis.Hume sependapat dengan Barkeley mengenai teori
asosiasi,namun dalam hal ini mengenai pemersepsi bagaimana jika unsure Tuhan
ditiadakan? Menurutnya tidak ada cara untuk mengetahui apakah ada ‘’sesuatu
diluar pikiran kita’’ jika semua pengetahuan tentang dunia luar adalah melalui
ide kita sendiri. Olehnya ia mengemukakannya dalam istilah isttilah berikut:
1. Kesan (impression) dan ide. Kesan
adalah unsure dasar kehidupan mental. Dalam dunia psikologi baru itu kita
ketahui sebagai sensasi dan persepsi. Menurutnya kesan itu lebih kuat dan
jelas. Ide sendiri merupakan pengalaman mental masing-masing individu dalam
ketiadaan obyek penstimulasi secara lansung. Yang man aide ini kita kenal
sekarang sebagai citra (image). Ide menurutnya tiruan lemah dari kesan.
2. Hume kemudian mengemukakan tiga buah
hokum asosiasi yaitu
a. Resemblance (keserupaan) artinya semakin
sering atimulus itu di artikan dalam saraf pusat atau pengalaman yang terulang
dengan keserupaan atau kemiripan maka semakin besar kemungkinan untuk
diasosiasikan.
b. Contiguity (kedekatan) artinya
semaking jarak interval waktu atau seringnya sebuah stimulus yang diterjemahkan
oleh saraf pusat maka semakin besar peluang asosiasinya.
c. Sebab-akibat
C. David Hartley
Ia adalah seorang dokter dan juga filsuf dari Inggris .Ia
juga dianggap sebagai pendiri asosiasionisme di dalam psikologi. Karya
besarnya berjudul "Observasi-Observasi terhadap Manusia" (Observations
on Man) yang ditulis pada tahun 1749. Teori pengulangan atau repetisinya
mengatakan bahwa Repetisi Semakin sering dua
ide terjadi secara bersamaan, semakin dekat dua ide tersebut dihubungkan.
Hartley adalah orang pertama yang mengaplikasikan teori asosiasi untuk
memecahkan masalah mental. Seperti filosof lainnya Hartley juga memandang dunia
mental dalam tataran mekanisme, namun yang membedakannya ia menjelaskan pula
prinsip fisiologis yang mendasari kesehatan mental itu, bukan semata-mata
menjelaskan proses psikologis dengan prinsip mekanis.
D.
James
Mill
Ia seorang filsuf kelahiran Skotlandia dan juga sosiolog yang terkenal di zamannya. Ia juga
merupakan ayah dari John Stuart Mill. James Mill lahir pada 6
April 1773 dan setelah muda, ia menempuh studi di beberapa tempat. Ia
menyelesaikan pendidikannya di Universitas Edinburgh di bidang teologi.
Selama hidupnya, ia dikenal oleh para pemikir sezamannya sebagai seorang yang
mempertahankan asas utilitarianisme, selain itu ia juga merupakan seorang
pemikir yang memiliki ketertarikan yang lebih terhadap pendidikan terutama di
bidang psikologi. Karya pentingnya dalam dunia psikologi adalah “ Analysis of the Phenomena of the Human Mind”.
Di dalam karya tersebut disebutkan , ia merumuskan tiga kriteria tentang kuat
atau lemahnya asosiasi itu:
1.
Ketetapan: Asosiasi yang kuat adalah asosiasi yang permanen,
artinya selalu ada kapan saja. Asosiasi yang kurang permanen berarti asosiasi
tersebut kurang kuat dan mudah hilang setelah beberapa saat.
2.
Kepastian: Suatu asosiasi adalah kuat kalau orang yang
berasosiasi itu benar-benar yakin akan kebenaran asosiasinya itu.
3.
Fasilitas: Suatu asosiasi akan kuat kalau di lingkungan
sekitar cukup banyak prasarana atau fasilitas yang memudahkan timbulnya
asosiasi, sehingga seseorang tidak usah berpikir keras atau berkhayal untuk
dapat melakukan asosiasi
Menurutnya pikiran itu sebagai mesin,
pikiran itu hasil stimulus dari panca indera yang mana menjadi pengontrol dalam
diri mahkluk hidup. Pemikirannya terhadap
pikiran / proses mental sangat mekanis.
Pikiran bersifat pasif total dan hanya bereaksi ketika ada stimulus eksternal.
Oleh karena itu pikiran tidak mempunyai
fungsi-fungsi kreatif.
E.
John Stuart Mill
Ia seorang filsuf empiris dari Inggris.
Ia mempelajari psikologi, yang merupakan inti filsafat Mill, dari ayahnya. Menurut Mill, psikologi
adalah suatu ilmu pengetahuan dasar yang menjadi asas bagi filsafat. Di sini,
pandangannya berbeda dengan Comte. Tugas psikologi adalah untuk
mempelajari kesehatan mental yang berdasarkan pada kesadaran yang berkaitan
dengan alat indera, namun baginya psikologi adalah pengetahuan pure hasil
pengalaman. Di dalam etika, Mill melihat
hubungan timbal-balik antara manusia secara pribadi dengan masyarakat atas
dasar prinsip utilitarianisme. Dengan demikian, tindakan yang dilakukan oleh
manusia bertujuan membawa kepuasan bagi dirinya sendiri secara psikologis,
bukan orang lain atau nilai-nilai. Dia adalah seorang pendukung
Utilitarianisme, sebuah teori etika yang dikembangkan oleh filsuf Jeremy
Bentham. Ia mempunyai pandangan yang berbeda dengan ayahnya, yaitu: pikiran
mempunyai peranan aktif dalam asosiasi
ide. Creative Synthesis:Ide kompleks dibentuk dari penjumlahan ide-ide sederhana dan ide
kompleks yang baru terbentuk tersebut
memiliki kualitas baru yang lebih tinggi dari
pada ide-ide sederhana yang semula. Selain itu ia juga beranggapan bahwa
pikiran itu adalah sesuatu yang pasif yang hanya akan bereaksi dengan munculnya
stimuli eksternal, menurutnya pikiran memainkan peranan aktif dalam
mengasosiasi idea tau reaksi kimiawi mental.
F.
Konstribusi Empirisme Terhadap Psikologi
• Berkembangnya
empirisme membawa pendekatan baru bagi para ilmuwan dalam usahanya
mendefisikian ilmu pengetahuan.
• Mereka tetap meneliti topik yang sama, namun
dengan menggunakan pendekatan yang berbeda à lebih ilmiah.
Sumbangan
prinsip Empirisme:
a. Proses sensasi.
b. Analisis pengalaman-pengalaman yang disadari
ke dalam elemen-elemen.
c. Menggabungkan elemen-elemen dalam pengalaman
mental yang lebih kompleks melalui proses asosiasi.
d. Fokus pada
proses-proses mental yang disadari.
Daftar Pustaka:
ü
Schultz, Duanne P., & Schultz, S.E .2008. A History of
Modern Psychology 9th Edition. New York: Wardsworth.
ü
Wikipedia.org. 2001 . nama tokoh. Terakhir diakses 29 Agustus
2019, 14.55 wita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar